Tuesday, 8 July 2014

Jadi Guru itu Ribet ya

Ane baru aja nyadar kalo jadi guru itu sangat ribet. Padahal semasa sekolah dulu bisa dibilang ane itu anak bandel.

Setiap orang memiliki bakat menjadi guru. Mulai dari guru bijak seperti Aristoteles dan Nabi Khidir hingga guru nyeleneh seperti Sinto Gendeng dan Zhou Botong (kalo kata orang sini mah Chu Pek Thong, eh bener gak sih nulis transliterasi dialek Hokkiennya?). Gak percaya? Coba deh jawab pertanyaan sederhana yang diajuin orang lain. Pasti ente berusaha menjelaskan jawaban itu dengan bahasa yang dimengerti mereka 'kan?

Kalo dulu, orang tua gak bolehin anaknya jadi guru kecuali kalo mereka orang kampung. Dulu tahu sendirilah, gaji guru dibandingkan dengan dokter, tentara, polisi, ato profesi pasaran anak SD lainnya jauh lebih kecil. Kalo sekarang, malah orang tua ane nyuruh ane jadi guru *eh*. Soal gaji, gaji guru honorer aja bisa lebih gede dari SPG. Belum kalo udah jadi PNS. Gaji plus tunjangan guru bersertifikasi aja gajinya lebih gede dari gaji Babeh ane yang notabene seorang kepala keuangan klinik.

Masalah yang sering dihadapi guru adalah perkembangan zaman. Zaman sekarang makin edan, itulah kata lagu Indonesia jadul yang ane lupa siapa penyanyinya. Beda zaman beda pula pola pendidikannya. Misalnya, teknik mengajar era 70-an gak bisa diterapkan di era 2000-an. Soalnya masalah zaman sekarang jauh lebih kompleks. Mulai dari dampak buruk teknologi hingga derasnya arus pergaulan bebas. Guru sekadar mengajar di depan kelas saja dianggap pepesan kosong, kecuali kalo gurunya cocok dengan gaya belajar murid atau gurunya punya wajah bening alias IGO. Makin parah kalo gurunya gaptek. Bayangkan saja muridnya mencontek berjamaah melalui jejaring sosial dan guru tidak bisa berbuat apa-apa karena gak ngerti.

Ane pernah baca artikel Pak Ajip (bacanya pake "y", kata orangnya sendiri di tulisannya) mengenai perbandingan pendidikan di Indonesia dan Malaysia. Sama-sama satu rumpun tapi beda jauh. Udahlah, kesampingkan dulu permusuhan kedua bangsa gara-gara sepak bola atau tulisan di dunia maya.

Orang Malaysia mengajari muridnya dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Mereka menggunakan teknologi terkini untuk alat bantu belajar, mempertimbangkan psikologi murid-muridnya, hingga menggunakan bahasa sedekat mungkin dengan bahasa yang muridnya gunakan.

Kalo orang Indonesia, guru yang seperti itu bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan guru sering ninggalin muridnya gitu aja entah ke mana. Kalo mengajar seperti ngomong ama papan tulis. Udah gitu, ada juga guru yang pundung pergi gak ngajar lagi di kelas gara-gara gak kuat menangani bandelnya murid zaman sekarang. Malah ada guru yang sempet-sempetnya selfie dan sibuk ikut-ikutan murid eksis di dunia maya pas jam pelajaran berlangsung. Bisa disebut sebagai "oknum guru" untuk membedakan dengan guru yang baik.

Kalo lihat berita, kadang miris dengan unjuk rasa yang dilakukan oleh para guru. Tuntutannya sih sederhana, minta diangkat jadi PNS atau meminta perhatian lebih pada dunia pendidikan. Kasihan juga dengan para guru yang mengabdi lama di desa. Kebanyakan adalah guru honorer yang menunggu nasib menjadi guru PNS. Mereka malah mengajar dengan sepenuh hati tapi pemerintah seakan tidak peduli dengan nasib mereka. Padahal gak bakal ada orang-orang pemerintahan jika tidak dididik oleh guru. Kayak kacang lupa kulitnya.

Guru berfungsi sebagai orang tua di sekolah. Bayangkan saja sekolah seperti suasana di rumah yang kacau balau. Orang tuanya tidak diperhatikan akan berdampak pada anak-anaknya. Guru jauh lebih sabar dibandingkan seorang ibu. Jika ibu dimaki anak sendiri saja sudah sakit apalagi dimaki oleh anak orang. Mereka harus terlihat lebih cerdas daripada muridnya. Mereka juga harus dituntut menjadi pribadi yang luwes akan perkembangan ilmu pengetahuan dan zaman. Menjadi guru tidak semudah para calon legislatif berkoar-koar menebar janji di depan para pendukungnya. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan berbahasa yang baik agar bisa menerjemahkan ilmu yang mereka peroleh dengan bahasa anak didiknya.

Tidak mudah menjadi guru. Guru memiliki tanggung jawab yang sama seperti orang tua. Bedanya hanya mendidik anak orang agar menjadi manusia berguna di masa depan kelak. Boleh ente tidak menyukai guru mata pelajaran tertentu, tapi ente jangan sekali-kali melukai perasaannya.

Pernah dulu guru Bahasa Inggris SMP ane bercerita mengenai masa mudanya. Saat itu beliau baru saja selesai mengajar dan tidak sengaja terkena ludah oleh salah seorang murid dari lantai atas. Saat diselidiki oleh pihak sekolah, ternyata pelakunya adalah salah satu murid kesayangannya. Guru ane pun kecewa. Kenapa murid yang selama ini beliau banggakan berbuat setega itu? Sang murid berkata ia tidak sengaja melakukannya lalu meminta maaf. Namun karena sudah terlanjur sakit hati, beliau sulit untuk memaafkannya. Penyesalan itu terus saja menghantui si murid hingga beberapa hari berselang, terdengar berita duka di telinga beliau. Sang murid sudah tiada. Ia tewas saat menyeberangi perlintasan kereta api yang tak jauh dari sekolah. Menurut kabar yang beliau dengar dari temannya, saat itu ia sedang berjalan dan ia tidak tahu jika kereta akan mendekat. Dengan cepat kereta menyambar tubuh mungilnya dan membuatnya terpental hingga tepi jalan.

"Padahal dia itu anaknya baik. Orangnya juga cantik," kata beliau di akhir ceritanya. Tak heran, kenapa orang-orang bijak pernah berkata, jangan sekali-kali melukai perasaan gurumu. Banyak cerita yang ane dengar baik di media cetak maupun elektronik bercerita mengenai penyesalan seorang murid karena telah memperlakukan gurunya dengan buruk. Setidaksukanya ente pada guru mata pelajaran tertentu, tetap hadiri kelasnya. Kesampingkan emosi pribadi ente untuk kebaikan ente sendiri. Toh mereka tak peduli ente hadir atau tidak. Mereka hanya peduli apakah murid-murid seperti ente bisa menjadi anak berguna dan sukses kelak.

Akhir kata, memang jadi guru itu ribet ya. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang. Jika kau tidak kenal siapa gurumu, kau tidak akan menyayanginya. Jika ente ingin dihargai, hargailah orang lain. Guru bukanlah malaikat. Mereka juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Andai saja pemerintah bisa mendengar suara hati mereka dan tidak sibuk dengan dunianya sendiri, niscaya negeri ini akan jauh lebih baik. Ah, ane jadi inget banyak dosa ama guru ane. Mumpung masih hidup, kenapa gak coba jalin silaturahim aja?

No comments:

Post a Comment